Jumat, 16 Agustus 2019

"YUK MENGENAL BUDAYA JAWA TIMUR"


Jawa timur (JATIM) merupakan salah satu provinsi di bagian timur pulau jawa, Indonesia dengan ibu kota Surabaya. Luas wilayah jawa timur kurang lebih 49.922 km2. Jawa timur berbatasan dengan laut jawa di utara, selat bali di timur, samudra hindia di selatan dan jawa tengah di barat.
Kebanyakan penduduk jawa timur adalah penganut agama islam dan beretnis jawa dan madura. Jawa timur juga memiliki beberapa lagu daerah seperti: Rek Ayo Rek, Cublak-Cublak Suweng, Kerraban Sape, Tanduk Majeng, dan Ole Olang. Rumah Tradisional Jawa Timur Yaitu Rumah Joglo dan Tanean Lanjhang.
Jawa timur memiliki beragam kesenian khas. Ragam kesenian itu antara lain:
Ø  Ludruk
Ludruk adalah suatu kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang dipergelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik
Ludruk merupakan seni teater tradisional asli Jawa Timur. Ludruk sangatlah berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah maupun Yogjakarta, lenong dari DKI Jakarta, maupun longser dari Jawa Barat. 4 kesenian tersebut selalu mengambil kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng) dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari dari kalangan wong cilik, bersifat sangat menghibur sehingga membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal.
Ø  Reog (Ponorogo)


Reog adalah salah satu seni budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.
Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi icon kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang biasanya kental dengan suasana supranatural. Seni terkenal Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak, dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan, Angling Darma, dan Sarip Tambak-Oso.
Ø  Topeng dalang
Topeng Dalang adalah jenis teater rakyat yang didalamnya terkandung unsur tari, musik, pedalangan dan lakon. 
Menurut kisah para seniman wayang topeng Madura atau topeng dalang ini, baik dari Bangkalan, Sampang dan Pamekasan, kesenian topeng dalang ini berasal dari Keraton Jambringan (Jambringen) yang berada di kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan yang diperintah oleh Raden Ario Menak Sanoyo atau juga dijuluki Pangeran Prabu Menak Sanoyo.
Kesenian rakyat Madura ini diperkirakan telah berkembang sejak abad ke XV, pada saat Prabu Menak Sanoyo, cucu Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit yang memerintah Paropo, Pamekasan, yang ingin menghidupkan pewayangan dan seni pedalangan di Madura.
Mulanya, wayang topeng atau topeng dalang ini hanya dimainkan oleh kerabat keraton karena tujuannya untuk menghormati para tamu agung yang datang ke keraton Jambringen.Namun lambat laun, kesenian ini keluar dari pintu keraton dan mulai menyebar hingga segala penjuru Pulau Madura. Lakon cerita dalam topeng wayang gaya Madura ini intinya sama dengan wayang kulit, yakni lakon Mahabharata dan Ramayana. Dalam pertunjukannya, Topeng Dalang akan melibatkan 15-25 pemain dalam setiap lakon yang dipentaskan semalam suntuk.
Sebelum dimulai, pertunjukan Topeng Dalang diawali dengan tarian yang disebut tari Gambu.
Di jaman dulu, hanya laki-laki yang boleh mementaskan wayang topeng ini. Namun seiring dengan kemajuan zaman dan kebutuhan masyarakat, maka akhirnya perempuan diperbolehkan ikut tampil dalam kesenian ini
Seperangkat gamelan yang terdiri dari kendang, gambang, saron, gong, kenong, gender, ponggang, bonang dan peking serta ada kalanya ditambah dengan terompet khas Madura (Sronen) akan mengiringi pementasan topeng dalang Madura ini.

Ø  Ojung













OJHUNG adalah sebuah pertunjukan tradisional masyarakat Madura,khususnya Sumenep. Tradisi ojhung ini selalu dilakukan setiap musim kemarau panjang tiba. tujuannya tak lain untuk mendatangkan hujan. Peralatan yang digunakan dalam permainan yang sekaligus berfungsi sebagai senjata adalah tongkat rotan yang berfungsi sebagai alat pukul. Alat tersebut oleh masyarakat setempat disebut lapalo atau kol-pokol . Selain itu, pemain menggunakan pelindung kepala (bhungkus atau bhuko) dan pembalut lengan kiri (bulen atau tangkes) . Permainan diatur oleh seorang wasit yang oleh masyarakat setempat disebut bhubhuto. Dalam pelaksanaannya, pertunjukan tersebut diiringi oleh orkes okol yang peralatan musiknya terdiri atas ghambang dan dhuk-dhuk.
Ø  Remo Sutina
Tari   Remo   Sutinah merupakan salah satu tari tradisional rakyat. Tari Remo   Sutinah ini   juga   termasuk dalam  tarian  tunggal  karena  tari  ini hanya  ditarikan  oleh  seorang  penari saja.   Namun   demikian   Tari   Remo Sutinah    ini tidak mutlak harus ditarikan oleh satu orang penari saja,  seiring dengan  perkembangan zaman dan  permintaan  atau  kebutuhan  dari audien  tari  Remo  Sutinah    ini  mulai mengalami  perkembangan  dan  dapat ditarikan  oleh  beberapa  orang  penari dengan pola lantai yang sederhana.
Tari     Remo     Sutinah adalah sebuah  tarian  yang  berkembang di kecamatan Prajekan      Kabupaten Bondowoso yaitu di sebuah padepokan  Gema  Buana. Padepokan Gema   Buana   adalah   satu satunya  padepokan yang    mengembangkan atau melestarikan kesenian tari Remo Sutinah  karena  pimpinan  dari padepokan  Gema  Buana  yaitu  Pak Sugeng  dipercaya  oleh bu Sutinah selaku pencipta  tari  Remo  Sutinah mampu  untuk menjaga, mengembangkan dan melestarikn tari Remo Sutinah. Tari Remo Sutinah sendiri diciptakan  oleh  seorang  perempuan bernama Ibu Sutinah pada tahun 1960-an. Tari Remo Sutinah merupakan tari pembuka dari pertunjukan Ludruk.https://www.youtube.com/watch?v=klWEd9mpj_s
         Analisis Struktur Gerak Tari Remo
Ø  Persepsi
Tari Remo sutina merupakan tari selamat datang khas bondowoso yang menggambarkan kharakter dinamis Masyarakat Jawa Timur Yang dikemas sebagai gambaran keberanian seorang pangeran.
Ø  Pengetahuan
Tari Remo sutina berasal dari Bondowoso. Tari remo merupakan tari yang khusus dibawakan oleh penari laki – laki. Ini berkaitan dengan lakon yang dibawakan dalam tarian ini. Pertunjukan tari remo umumnya menampilkan kisah pangeran yang berjuang dalam sebuah medan pertempuran. Sehingga sisi kemaskulinan penari sangat dibutuhkan dalam menampilkan tarian ini.
Berdasarkan perkembangan sejarah tari remo, dulunya tari remo merupakan seni tari yang digunakan sebagai pembuka dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi dari tari remo pun mulai beralih dari pembuka pertunjukan ludruk, menjadi tarian penyambutan tamu, khususnya tamu – tamu kenegaraan. Selain itu tari remo juga sering ditampilkan dalam festival kesenian daerah sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa Timur. Oleh karena itulah kini tari remo tidak hanya dibawakan oleh penari pria, namun juga oleh penari wanita. Sehingga kini muncul jenis tari remo putri. Dalam pertunjukan tari remo putri, umumnya para penari akan memakai kostum tari yang berbeda dengan kostum tari remo asli yang dibawakan oleh penari pria.
Ø Pengertian
Tari remo adalah tari putra yang berkaitan dengan pertunjukan ludruk, yaitu berfungsi sebagai tarianpembukaan.
PengertianRemo: Remo berarti rambut, karena dalam tari remo ada gerakan yang mempermainkan rambut yaitu salah satunya disebut : tatasan ure rekmo (mengurai rambut).
Remo berasal dari kata jawa remong yang artinya : sampur, karena tarian tersebut sangat dominan menggunakan sampur
FungsiTari: Tari remo murni merupakan tari pertunjukan.
Ø Analisa
         I.          MUSIK : tarian ini diiringi dengan musik gamelan dalam suatu gending yang terdiri dari bonang, saron, gambang, gender, slentem, siter, seruling, ketuk, kenong, kempul dan gong dan irama slendro.
      II.          KOSTUM : penarinya menggunakan jenis kostum yaitu sawonggaling yang terdiri dari bagian atas hitam yang menghadirkan pakaian abad 18,celana bludru hitam dengan hiasan emas dan batik.dipinggang ada sebuah sabuk dan keris .dipaha kanan ada selendang menggantung sampai kemata kaki. penari perempuan memakai simpul(sanggul)di rambutnya.

   III.          GERAKAN : Karakteristika yang paling utama dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif.
Ø    Singo Ulung
Singo Ulung adalah kesenian tari menggunakan barongan yang merupakan seni tradisional dari Kabupaten Bondowoso . Tari tradisionalini diciptakan oleh seorang pemuda brewok dengan pakaian kusam bernama Kiai Singo Wulu yang dihormati karena kesaktiannya sekitar 400 tahun yang lalu. Kiai Singo adalah nama orang yang datang dari Ponorogo yang merupakan masih keturuan dari kerabat bupati Ponorogo, Batoro Katong.
Dalam perjalanannya untuk dakwah islami, Kiai Singo Wulu berhenti di sebuah hutan yang masih lebat dan berteduh di sebuah pohon Belimbing untuk istirahat. Kedatangan Kiai Singo Wulu membuat murka Jasiman yang merupakan penguasa hutan tersebut karena telah lancang memasuki wilayahnya, hingga akhirnya terjadilah perkelahian yang sengit antara kiai singo wulu dan Jasiman yang keduanya menggunakan kayu rotan yang ada di hutan tersebut.
Jasiman sebagai penguasa hutan tidak mau mengalah, hingga pada saatnya Kiai Singo mengubah wujudnya menjadi "Sardula Seta" atau harimau Putih. Jasiman tidak mampu melawan Kiai Singo yang kian memojokannya dan tidak dapat berkutik, pada akhirnya Jasiman mengalah dan meminta pertarungan di hentikan.
Jasiman yang tidak tahu kedatangan Kiai Singo pun menjadi Sadar dan masuk agama Islam. Kiai Singo merupakan pendekar sakti yang sudah beragama islam yang ternyata satu perguruan dengan Jasiman, pemandangan yang biasa manusia dengan ilmu tingkat tinggi mampu mengubah wujudnya menjadi siluman harimau.Hingga Jasiman menikahkan adiknya bernama Muna dengan Kiai Singo dan berganti nama menadi Muslihah, karena Kiai Singo di rasa cocok karena sangat sederhana dari penampilannyayang terkesan ulung.

Ø  Topeng Kona
Topeng Kona yang artinya Topeng Kuno. Asal usul Topeng Kona berangkat dari Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso. Mengapa disebut Topeng Kona? Karena sebelum topeng lain ada atau perkembangan topeng versi lain ada, khususnya di Desa Blimbing, topeng tersebut ada pertama kali.
            Topeng Kona merupakan serangkaiaan dari seni pertunjukan pertunjukan Singo Ulung yang bersifat sebagai sarana upacara bersih desa atau sarana dalam upacara ritual, dan jenis seni tersebut masih tetap berlangsung sampai sekarang. Singo Ulung sebagai seni pertunjukan yang hidup di desa Blimbing, kecamatan Klabang, kabupaten Bondowoso, dirintis oleh seorang tokoh masyarakat bernama Mulbi. Kesenian ini diperkirakan lahir pada tahun 1942M. seni pertunjukan ini menyajikan cerita tentang kisah seorang pendiri desa bernama Juk Seng atau Mbah Singo yang disertai dengan atraksi – atraksi yaitu Topeng Kona (Topeng yang ada pertama kali di daerah tersebut), tandhak putri (tarian yang dilakukan oleh seorang pria dengan menggunakan pakaian wanita), dan ojung (atraksi yang dilaksanakan oleh dua orang pemain yang masing-masing peraga menggunakan property sebuah cambuk dari rotan). Kesenian tersebut merupakan sarana upacara bersih desa. Dan dalam hal ini Singo Ulung juga bias digunakan sebagai atraksi tunggal, tetapi yang paling pokok adalah digunakan untuk arak-arakan keliling desa pada saat pelaksanaan upacara bersih desa tersebut. Arak-arakan ini disebut arak Nangger. di daerah Bondowoso, terdapat jenis seni pertunjukan pertunjukan Singo Ulung yang bersifat sebagai sarana upacara bersih desa atau sarana dalam upacara ritual, dan jenis seni tersebut masih tetap berlangsung sampai sekarang. Singo Ulung sebagai seni pertunjukan yang hidup di desa Blimbing, kecamatan Klabang, kabupaten Bondowoso, dirintis oleh seorang tokoh masyarakat bernama Mulbi. Kesenian ini diperkirakan lahir pada tahun 1942M. seni pertunjukan ini menyajikan cerita tentang kisah seorang pendiri desa bernama Juk Seng atau Mbah Singo yang disertai dengan atraksi – atraksi yaitu Topeng Kona (Topeng yang ada pertama kali di daerah tersebut), tandhak putri (tarian yang dilakukan oleh seorang pria dengan menggunakan pakaian wanita), dan ojung (atraksi yang dilaksanakan oleh dua orang pemain yang masing-masing peraga menggunakan property sebuah cambuk dari rotan). Kesenian tersebut merupakan sarana upacara bersih desa. Dan dalam hal ini Singo Ulung juga bias digunakan sebagai atraksi tunggal, tetapi yang paling pokok adalah digunakan untuk arak-arakan keliling desa pada saat pelaksanaan upacara bersih desa tersebut. Arak-arakan ini disebut arak Nangger.
Ø  Tembang Macapat
Kesenian asli macapat merupakan salah satu bentuk puisi tradisional dalam kesustraan Jawa, menggunakan bahasa Jawa, diciptakan oleh masyarakat tradisional yang digolongkan ke dalam karya sastra Jawa Klasik.
Kesenian macapat ini berkembang berkembang di Kabupaten Bondowoso merupakan hasil dari perpaduan antara budaya Madura dengan budaya Jawa. Unsur budaya Madura yang terkandung dalam kesenian macapat dapat dilihat dari bahasa yang digunakan yaitu bahasa Madura, karena masyarakat Bondowoso mayoritas berasal dari suku Madura. Sedangkan budaya Jawa yang dipakai yaitu jenis tembang yang biasanya digunakan dalam  tembang Jawa,  meskipun ada sebagian  jenis tembang yang memiliki nama yang berbeda, namun pada dasarnya isi dan kandungan tembang masih sama. Perpaduan kebudayaan tersebut menyebabkan kesenian macapat di Kabupaten Bondowoso memiliki ciri dan kekhasan tersendiri, namun tidak lepas dari bentuk aslinnya.
Perkembangan kesenian macapat di Kabupaten Bondowoso tidak terlepas dari peranan dan pengaruh dari orang – orang Madura yang melakukan migrasi ke pantai utara pulau Jawa bagian Timur, khususnya di Kabupaten Bondowoso. Unsur budaya yang disebarkan orang Madura di Kabupaten Bondowoso misalnya bahasa dan kesenian. Selain itu migrasi orang Madura dapat berpengaruh terhadap perkembangan budaya dan pola pemukiman. Para migrant Madura membawa bahasa ke tempat baru dan mengembangkan seni, seni tradisional dari daerah asalnya. Oleh karena itu, sampai sekarang masyarakat yang ada di Bondowoso mayoritas menggunakan bahasa Madura sebagai alat  komunikasi sehari – hari.
Dalam perkembangannya kesenian macapat dijadikan sebagai salah satu bentuk ungkapan seni yang pada akhirnya ikut serta dalam upacara, upacara adat, misalnya : selamatan tujuh bulan usia kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, rokat ( ruwatan ), dan tolak bala.

3 komentar:

  1. Tentang Tari Remo Sutina, coba deh adakan lomba antar kelas espara. Espara Pasti Bisa.

    BalasHapus
  2. Ide yang bagus untuk melestarikan budaya daerah ke kancah internasional

    BalasHapus

"YUK MENGENAL BUDAYA JAWA TIMUR"

Jawa timur (JATIM) merupakan salah satu provinsi di bagian timur pulau jawa, Indonesia dengan ibu kota Surabaya. Luas wilayah jawa timur ...